BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Istilah
protein berasal dari kata Yunani proteos, yang berarti yang utama atau yang
didahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh seorang ahli kimia Belanda, Gerardus
Mulder (1802-1880), karena ia berpendapat bahwa protein adalah zat yang paling
penting dalam setiap organisme (Almatsier, 2009).
Protein
merupakan komponen utama dalam semua sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan.
Pada sebagian besar jaringan tubuh, protein merupakan komponen terbesar setelah
air. Kira-kira dari 50% berat yang terdiri atas unsure-unsur karbon (50-55%), hidrogen
(±7%), oksigen (±13%), dan nitrogen (±16%). Banyak pula protein yang mengandung
belerang (S) dan forfor (P) dalam jumlah sedikiit (1-2%). Ada beberapa protein
lainnya mengandung unsure logam seperti Tembaga dan Besi (Sirajuddin &
Najamuddin, 2011).
Protein
mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu
membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2009).
1.2
TUJUAN PERCOBAAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Adapun
tujuan umum dari percobaan kali ini yaitu:
1. Mengetahui unsur-unsur utama penyusun protein
2. Mengetahui sifat fisikokimia dari protein
3. Mengetahui adanya molekul-molekul peptide dari
protein
4. Mengidentifikasi adanya asam amino dalam protein
5. Mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada
identifikasi asam amino
6. Mengetahui cara pemisahan suatu asam amino.
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1.
Uji Susunan Elementer Protein
Mengidentifikasi adanya unsur-unsur penyusun protein
2.
Uji Kelarutan Protein
Mengetahui daya kelarutan protein terhadap pelarut
tertentu.
3.
Uji Pengendapan Protein dengan Garam
Mengetahui pengaruh larutan garam alkali dan garam divalen
konsentrasi tinggi terhadap sifat kelarutan protein.
4.
Uji Pengendapan Protein dengan Logam dan Asam
Organik
Mengetahui pengaruh logam berat dan asam organik
terhadap sifat kelarutan protein.
5.
Uji Biuret
Membuktikan adanya molekul-molekul peptide dari
protein
6.
Uji Ninhidrin
Membuktikan adanya asam amino bebas dalam protein
7.
Uji Xantoprotein
Membuktikan adanya asam amino tirosin, triptofan,
atau fenilalanin yang terdapat dalam protein.
8.
Uji Penentuan Titik Isoelektrik
Mengetahui titik isoelektrik (PH isoelektrik) dari
protein secara kualitatif.
1.3
PRINSIP PERCOBAAN
1.
Uji Susunan Elementer Protein
Semua
jenis protein tersusun atas unsure-unsur karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O),
dan nitrogen (N). Ada pula protein yang menganduung sedikit belerang (S) dan
fosfor (P). Dengan metode pembakaran atau pengabuan, akan diperoleh unsur-unsur
penyusun protein, yaitu C, H, O, dan N.
2.
Uji Kelarutan Protein
Protein
bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam maupun basa. Daya
larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa. Sebagian ada yang mudah
larut dan ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam
pelarut lemak seperti eter atau kloroform. Apabila protein dipanaskan atau
ditambah etanol absolute, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini
disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molekul protein.
3.
Uji Pengendapan Protein dengan Garam
Pengaruh penambahan garam terhadap kelarutan protein berbeda-beda,
tergantung pada konsentrasi dan jumlah muatan ionnya, semakin efektif garam
dalam mengendapkan protein. Peristiwa pemisahan atau pengendapan protein oleh
garam berkonsentrasi tinggi disebut salting out.
4.
Uji Pengendapan Protein dengan Logam dan Asam
Organik
Sebagian besar protein dapat diendapkan dengan penambahan asam-asam
organic seperti asam pikrat, asam trikloroasetat, dan asam sulfosalisilat. Penambahan asam-asam
menyebabkan terbentuknya garam proteinat yang tidak larut. Kemudian, protein
dapat pula mengalami denaturasi irreversible dengan adanya logam-logam berat
seperti Cu2+, Hg2+, atau Pb2+ sehingga mudah
mengendap.
5.
Uji Biuret
Ion Cu2+
(dari pereaksi biuret) dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau
ikatan-ikatan peptide yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna
ungu (violet). Reaksi biuret positif terhadap dua buah ikatan peptide atau
lebih, tetapi negative untuk asam amino bebas atau dipeptida. Reaksi pun
positif terhadap senyawa-senyawa yang mengandung dua gugus: -CH2NH2,
-CSNH2, -C(NH)NH2, dan –CONH2.
Biuret
adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua
molekul urea.
6.
Uji Ninhidrin
Semua
asam amino atau peptide yang mengandung asam α-amino bebas akan bereaksi dengan
ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru. Namun, prolin dan
hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning.
7.
Uji Xantoprotein
Reaksi
pada uji xantoprotein didasarkan pada nitrasi inti benzene yang terdapat pada
molekul protein. Jika protein yang mengandung cincin benzene (tirosin, triptofan, dan fenilalanin) ditambahkan asam nitrat
pekat, maka akan terbentuk endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning
sewaktu dipanaskan . senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi
dan warnanya berubah menjadi jingga.
8.
Uji Penentuan Titik Isoelektrik
Seperti
pada asam-asam amino bebas, protein pun mempunyai titik isoelektrik yang
berbeda-beda. Titik isoelektrik (TI) adalah daerah PH tertentu di mana protein
tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama,
sehingga tidak bergerak bila diletakkan dalam medan listrik. Pada PH isoelektrik (pI), daya kelarutan protein
minimal, sehingga menyebabkan protein mengendap.
1.4
MANFAAT PERCOBAAN
1.
Mengetahui
unsur-unsur utama penyususn protein.
2.
Mengetahui sifat
fisikokimia dari protein
3.
Mengetahui
adanya molekul-molekul peptide dari protein
4.
Mengidentifikasi
adanya asam amino dalam protein
5.
Mengetahui
reaksi-reaksi yang terjadi pada identifikasi asam amino
6.
Mengetahui cara
pemisahan suatu asam amino
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Protein
adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah
air.seperlima bagian tubuh adalah protein, separuhnya ada di bagian otot,
seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan
selebihnya di dalam jaringan lain dan cairaan tubuh. Semua enzim, berbagai
hormon, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intraseluler dan sebagainya
adalah protein. Di samping itu, asam amino yang membentuk protein bertindak
sebagai precursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan
molekul-molekul yang esensial untuk kehidupan (Almatsier, 2009).
Protein
mewakili kelas molekul yang mempunyai berbagai fungsi. Telur, otot, antibodi,
sutra, kuku jari, dan banyak hormone sebagian atau seluruhnya merupakan
protein. Walaupun fungsi protein berbeda-beda, struktur yang dimilikinya sama.
Semua protein adalah polimer dari asam amino; yang berarti terdiri atas sebuah
rantai asam amino yang terikat secara kovalen. Ikatan di antara asam amino
disebutikatan peptida, sedangkan rantainya disebut polipeptida atau peptida
(Pack, 2007).
Protein
mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu
membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier, 2009).
Protein
berfungsi sebagai pembentuk struktur sel pada makhluk hidup termasuk manusia.
Protein adalah polimer dari asam-asam amino yang bersambung melalui ikatan
peptide. Hal yang menarik bahwa protein pada semua bentuk kehidupan (organisme)
mengandung hanya 20 jenis asam amino, namun interkoneksitasnya menghasilkan
beragam makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya (Tim Dosen MKU, 2011).
Didalam
tubuh, protein mempunyai peranan yang sangat penting. Fungsi utamanya sebagai
zat pembangun atau pembentuk struktur sel, misalnya untuk pembentukan kulit,
otot rambut, membran sel, jantung, hati, ginjal dan beberapa organ penting
lainnya. Kemudian, terdapat pula protein yang mempunyai fungsi khusus, yaitu
protein yang aktif. Beberapa di antaranya adalah enzim yang berperan sebagai
biokatalisator, hemoglobin sebaai pengangkut oksigen, hormone sebagai penyalur
metabolism tubuh, dan antibodi untuk mempertahankan tubuh dari serangan
penyakit. Kekurangan protein dalam jangka waktu lama dapat mengganggu berbagai
proses metabolisme di dalam tubuh serta mengurangi daya tahan tubuh terhadap
serangan penyakit (Sirajuddin & Najamuddin, 2011).
Pentingnya protein, senyawa yang bertanggung jawab atas berfungsi primer
dalam sel hidup, tidak perlu ditonjolkan lagi. Pandangan ini tetap bertahan
meskipun telah terjadi kemajuan yang sangat mengesankan dalam kimia nukleat dan
munculnya DNA sebagai pembawa informasi genetic dan RNA sebagai sablon dalam
biosintesis protein. Asam nukleat menyediakan cetak biru untuk membangun mesin
yang rumit, mesin itu sendiri berupa protein (Bodanszky, 1998).
Protein
dalam tubuh manusia diperoleh dari makanan, baik yang berasal dari hewan maupun
tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan
yang berasal dari tumbuhan disebut
protein nabati. Sumber protein dari beberapa bahan makanan adalah daging,
telur, susu, ikan, beras, kacang, dan buah-buahan. Protein dalam makanan yang
dikonsumsi manusia akan dipecah menjadi asam-asam amino dalam proses pencernaan
dengan dibantu oleh enzim seperti pepsin dan tripsin. Asam-asam amino yang
dihasilkan kemudian diserap oleh usus dan dibawa darah ke hati atau
didistribusikan ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Selain untuk pembentukan
sel-sel tubuh, protein dapat pula digunakan sebagai bahan bakar apabila
keperluan energy tubuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak (Sirajuddin
& Najamuddin, 2011).
Secara
kimiawi, protein merupakan senyawa polimer yang tersusun atas satuan asam-asam
amino sebagai monomernya. Asam-asam amino terikat satu sama lain melalui ikatan
peptide, yaitu ikatan antara gugus karboksil (-COOH) asam amino yang satu
dengan gugus amino (-NH2) dari asam amino yang lain dengan
melepaskan satu molekul air. Peptide yang terbentuk dua asam amino disebut
dipeptida. Sebaliknya, peptide yang terdiri atas tiga, empat atau lebih asam
amino masing-masing disebut tripeptida, tetrapeptida, dan seterusnya
(Sirajuddin & Najamuddin, 2011).
Ada
empat tinggatan yang menggambarkan struktur protein (Pack, 2007):
1.
Struktur primer
sebuah protein menggambarkan urutan asam-asam amino. Dengan menggunakan tiga
huruf untuk mewakili setiap asam amino, struktur primer untuk protein hormone
antidiuuretik (ADH) dapat ditulis sis-tir-glu-asn-sis-pro-arg-gli.
2.
Struktur
sekunder sebuah protein berbentuk tiga dimensi yang dihasilkan dari pengikatan hidrogen
diantara asam-asam amino. Pengikatan ini menghasilkan spiral (uliran alfa) atau
bidang terlipat yang terlihat sangat mirip dengan lipatan-lipatan pada rok
(lembaran berlipat-lipat).
3.
Struktur tersier
sebuah protein meliputi bentukan tiga dimensi tambahan yang dihasilkan dari
interaksi di antara gugus-gugus R. sebagai contoh, gugus-gugus R hidrofobik
cenderung mengumpul ke arah dalam protein tersebut, sementara gugus R yang
hidrofilik mengumpul kea rah luar protein. Bentukan tiga dimensi tambahan
terjadi ketika asam amino sisteina mengikatkan diri pada sebuah sisteina lain
di seberang ikatan disulfide. Ini menyebabkan protein tersebut terbelit di
sekitar ikatan.
4.
Struktur kuarter
menggambarkan sebuah protein yang tersusun dari dua atau lebih rantai peptide
yang terpisah. Sebagai contoh, protein hemoglobin terdiri atas empat rantai peptide
yang disatukan oleh ikatan hidrogen, interaksi antara gugus R, dan ikatan
disulfida.
Sebuah
protein dibedakan dengan protein lainnya oleh jumlah susunan ke 20 asam amino
yang berbeda. Setiap asam amino terdiri atas satu karbon pusat yang terikat ke
satu gugus amino (-NH2), satu gugus karboksil (-COOH), dan satu atom
hidrogen. Ikatan keempat dari karbon pusat ditunjukkan dengan huruf R, yang
menunjukkan sebuah atom atau gugus atom yang berbeda-beda dari satu jenis asam
amino dengan asam amino yang lain. Untuk asam amino yang paling sederhana,
glisina, R yang dimaksud adalah atom hidrogen. Untuk serina, R adalah sebuah CH2OH.
Untuk asam-asam amino yang lain, R dapat mengandung sulfur (seperti pada
sistena) atau cincin karbon (seperti pada fenilalana)(Pack, 2008).
Molekul
protein lebih kompleks daripada karbohidrat dan lemak dalam hal berat molekul
dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya. Berat molekul
protein bias mencapai empat puluh juta; bandingkan dengan berat molekul glukosa
yang besarnya 180. Jenis protein sangat banyak, mungkin sampai 1010-1012.
Ini dapat dibayangkan bila diketahui bahwa protein terdiri atas sekian
kombinasi berbagai jenis dan jumlah asam amino. Ada dua puluh jenis asam amino
yang diketahui sampai sekarang yang terdiri atas Sembilan asam amino esensial
(asam amino yang tidak dapat dibuat tubuh dan harus didatangkan dari makanan)
dan sebelas asam amino non esensial (Almatsier, 2009).
Berdasarkan struktur molekulnya, dalam buku Prinsip Dasar Ilmu Gizi, protein dapat dibagi menjadi tiga golongan
utama yaitu serabut (fibrous),
globular, dan konjugasi (Almatsier, 2009):
a.
Protein Globuler.
Protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer, mudah berubah dibawah
pengaruh suhu, konsentrasi garam serta mudah mengalami denaturasi. Contohnya,
yaitu : Albumin terdapat dalam telur,
susu, plasma, dan hemoglobin. Albumin larut dalam air dan mengalami koagulasi
bila dipanaskan; Globulin terdapat
dalam otot, serum, kuning telur, dan biji tumbuh-tumbuhan. Globulin tidak larut
dalam air tetapi larut dalam larutan garam encer dan garam dapur dan mengendap
dalam larutan garam konsentrasi tinggi. Globulin mengalami koagulasi bila
dipanaskan; Histon terdapat dalam
jaringan-jaringan kelenjar tertentu seperti timus dan pancreas. Histon di dalam
sel terikat dengan asam nukleat; Protamin
dihubungkan dengan asam nukleat.
b.
Protein Fiber.
Karakteristik dari protein ini adalah rendahnya daya larut, mempunyai kekuatan
mekanis yang tinggi dan tahan terhadap enzim pencernaan. Protein ini terdapat
dalam unsur-unsur struktur tubuh. Contohnya: Kolagen merupakan protein utama jaringan ikat. Kolagen tidak larut
air, mudah berubah menjadi gelatin bila direbus dalam air, asam encer atau
alkali. Kolagen tidak mengandung triptofan tapi banyak mengandung
hidroksiprolin dan hidroksilisin. Sebanyak 30% protein total manusia adalah
kolagen; Elastin terdapat dalam urat, otot, arteri (pembuluh darah) dan
jaringan elastis lain. Elastin tidak dapat diubah menjadi gelatin; Keratin
adalah protein rambut dan kuku. Protein ini mengandung bayak sulfur dalam
bentuk sistein. Rambut manusia memngandung 14% sistein; Miosin merupakan
protein utama serta otot.
c.
Protein konjugasi. Protein ini merupakan protein sederhana yang terikat
dengan bahan-bahan nonasam amino. Gugus nonasam amino ini dinamakan gugus
prostetik. Contohnya: nucleoprotein
adalah kombinasi protein dengan asam nukleat dan mengandung 9-10% fosfat.
Nukleoprotein yang dapat larut dalam air, tidak mudah didenaturasi oleh panas; Lipoprotein
adalah protein larut air yang berkonjugasi dengan lipida, seperti lesitin
dan kolesterol. Lipoprotein terdepat dalam plasma dan berfungsi sebagai
pengangkut lipida dalam tubuh; Fosfoprotein adalah protein yang terikat
melalui ikatan ester dengan asam fosfat seperti pada kasein dalam susu; Metaloprotein
adalah protein yang terikat dengan mineral, seperti feritin dan hemosiderin di
mana mineralnya adalah zat besi, tembaga, dan seng.
Sedangkan pada buku Penuntun Praktik Biokimia, protein dibagi menjadi dua yaitu serabut
dan globular (Sirajuddin & Najamuddin, 2011):
1.
Protein Globuler. Protein
ini berbentuk bulat atau elips dengan rantai polipeptida yang berlipat.
Umumnya, protein globuler larut dalam air, asam, basa, dan etanol.
2.
Protein Fiber. Protein
ini berbentuk serat atau serabut dengan rantai polipeptida memanjang pada satu
sumbu. Hampir semua protein fiber memberikan peran struktural atau pelindung.
Sifat fisikokimia protein berbeda satu sama
lain, tegantung pada komposisi dan jenis asam amino penyusunnya. Sebagian besar
protein bila dilarutkan dalam air akan membentuk disperse koloid dan tidak
dapat berdifusi bila dilewatkan melalui membrane semipermiabel (Sirajuddin
& Najamuddin, 2011).
Spesies isoelektrik adalah bentuk suatu
molekul yang jumlah muatan positif dan negatifnya setara sehingga netral secara
elektris. pH isoelektrik juga disebut pI adalah pH di pertengahan antara nilai
pKa di kedua sisi pesies isoelektrik (Murray, 2009).
Asam amino cenderung paling kurang larut
pada titik isolistriknya, karena muatan bersihnya nol. Pada pH lebih rendah,
kealrutan asam amino meningkat karena ion karboksilat mengambil protein dari
larutan, sehingga asam amino menjadi bermuatan positif. Pada pH yang lebih
tinggi, kelarutan asam amino juga meningkat karena proton dihilangkan dari ion
amonium yang bermuatan positif pada ion, sehingga muatan bersih dari asam amino
adalah negative (Wilbraham & Matta, 1992).
Pada umumnya, protein sangat peka
terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia, sehingga mudah mengalami
perubahan bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur molekul protein disebut denaturasi. Hal-hal yang dapat
menyebabkan terjadinya denaturasi adalah: panas, pH, tekanan, aliran listrik,
dan adanya bahan kimia seperti urea, alkohol dan sabun. Proses denaturasi
kadang berlangsung secara reversible, tetapi ada pula yang irreversible,
tergantung pada penyebabbnya. Protein yang mengalami denaturasi akan menurunkan
aktivitas biologis dan berkurang kelarutannya, sehingga mudah mengendap
(Sirajuddin & Najamuddin, 2011).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1.
ALAT DAN BAHAN
1.
Uji Susunan Elementer Protein
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu kertas lakmus, tabung
reaksi, alat pemanas, cawan porselin, dan gelas objek.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu albumin telur, gelatin, larutan NaOH 10%, larutan
Pb-asetat 5%, dan larutan HCl pekat.
2.
Uji Kelarutan Protein
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu tabung reaksi dan
pipet ukur.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu albumin telur, gelatin, air suling (aquades), larutan HCl 10%,
larutan NaOH 40%, alkohol 96%, dan kloroform.
3.
Uji Pengendapan Protein dengan Garam
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu tabung reaksi, pipet
ukur, dan pipet tetes.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu albumin telur, larutan (NH4)2SO4
jenuh, larutan NaCl 5%, larutan BaCl2 5%, larutan CaCl2 5%, dan larutan MgSO4
5%.
4.
Uji Pengendapan Protein dengan Logam dan Asam
Organik
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu tabung reaksi dan
pipet ukur atau tetes.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu albumin telur, asam trikloroasetat (TCA) 10%, asam
sulfosalisilat 5%, larutan HgCl2 5%, laruutan CuSO4 5%,
dan larutan Pb-asetat 5%.
5.
Uji Biuret
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu tabung reaksi, pipet
ukur, dan pipet tetes.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 0,5%, glisin
2%, larutan NaOH 10%, dan larutan CuSO4 0,2%.
6.
Uji Ninhidrin
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu alat pemanas atau
penangas air, pengatur waktu, dan pipet ukur atau tetes.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 0,5%, pepton
0,5%, dan pereaksi ninhidrin 0,1%.
7.
Uji Xantoprotein
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu alat pemanas, pipet
ukur, dan pipet tetes.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, tirosin
2%, larutan HNO3 pekat, dan larutan NaOH 10%.
8.
Uji Penentuan Titik Isoelektrik
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu tabung reaksi, pipet
ukur dan pengatur waktu.
Adapun
bahan yang digunakan yaitu larutan kasein netral dan buffer asetat Ph = 3,8;
4,7; 5,0; dan 5,9.
III.2.
PROSEDUR PERCOBAAN
1.
Uji Susunan Elementer Protein
1.
Uji Adanya Unsur C, H, dan O.
1) Sebanyak 1 ml albumin telur dimasukkan ke dalam
cawan porselin.
2) Kaca objek di taruh diatasnya lalu dipanaskan.
3) Diperhatikan adanya pengembunan pada gelas objek,
yang menunjukkan adanya hidrogen (H) dan oksigen (O).
4) Gelas objek diambil lalu diamati bau yang terjadi.
Bila tercium bau rambut terbakar, berarti protein mengandung unsur nitrogen
(N).
5) Bila terjadi pengarangan, berarti ada atom karbon
(C).
6) Percobaan diulangi dengan menggunakan serbuk
gelatin.
2.
Uji Adanya Atom N
1) Sebanyak 1 ml larutan albumin telur dimasukkan ke
dalam tabung reaksi.
2) Ditambahkan dengan 1 ml Naoh 10%, kemudian
dipanaskan.
3) Diperhatikan bau ammonia yang terjadi dan uapnya
diuji dengan kertas lakmus merah yang telah dibasahi dengan aquades.
4) Terbentuknya bau ammonia menunjukkan adanya N.
5) Percobaan diulangi dengan menggunakan serbuk
gelatin.
3.
Uji Adanya Atom S
1) Sebanyak 1 ml albumin telur dimasukkan ke dalam
tabung reaksi.
2) Ditambahkan dengan 1 ml NaOH 10%, kemudian
dipanaskan.
3) Ditambahkan dengan 4 tetes larutan Pb-asetat.
4) Bila larutan menghitam, berarti PbS terbentuk,
kemudian ditambahkan 4 tetes HCl pekat dengan hati-hati.
5) Diperhatikan bau khas belerang dari belerang yang
teroksidasi.
6) Percobaan diulangi dengan menggunakan serbuk
gelatin.
2.
Uji Kelarutan Protein
1) Disediakan 5 tabung reaksi, masing-masing diisi
dengan : air suling, HCl 10%, NaOH 40%, alkohol 96%, dan kloroform sebanyak 1
ml.
2) Sebanyak 2 ml larutan albumin telur ditambahkan pada
setiap tabung
3) Dikocok dengan kuat, kemudian sifat keklarutannya
diamati.
4) Percobaan diulangi dengan menggunakan gelatin.
3.
Uji Pengendapan Protein dengan Garam
1) Disediakan 5 tabung reaksi, masing-masing diisi
dengan 2 ml albumin telur.
2) Pada tabung 1, 2, 3, 4, dan 5 berturut-turut
ditambahkan larutan NaCl 5%, BaCl2 5%, CaCl2 5%, MgSO4
5%, dan (NH4)2SO4 jenuh setetes demi setetes
sampai timbul endapan.
3) Selanjutnya, ditambahkan kembali larutan-larutan
garam secara berlebiham.
4) Tabung dikocok, kemudian diamati perubahan yang
terjadi.
4.
Uji Pengendapan Protein dengan Logam dan Asam
Organik
1) Disediakan 5 tabung reaksi yang bersih,
masing-masing diisi dengan 2 ml larutan
albumin telur.
2) Pada tabung 1, 2, 3, 4, dan 5 berturut-turut
ditambahkan 10 tetes larutan asam trikloroasetat 10%, asam sulfosalisilat 5%,
CuSO4 5%, dan Pb-asetat 5%.
3) Setiap tabung dikocok lalu diamati perubahan yang
terjadi.
5.
Uji Biuret
1) Disediakaan 4 tabung
reaksi yang bersih, lalu masing-masing diisi dengan: larutan albumin,
kasein, gelatin, dan glisin sebanyak 2 ml.
2) Dicampur dengan baik.
3) Diamati perubahan warna yang terjadi.
6.
Uji Ninhidrin
1) Disediakan 4 tabung reaksi yang bersih, lalu
masing-masing diisi dengan larutan albumin, kasein, gelatin, dan pepton
sebanyak 2 ml.
2) Sebanyak 5 tetes pereaksi ninhidrin ditambahkan pada
setiap tabung.
3) Kemudian, dipanaskan di atas penangas air hingga
mendidih selama 5 menit.
4) Diamati perubahan warna yang terjadi.
7.
Uji Xantoprotein
1) Disediakan 4 tabung reaksi yang bersih dan
masing-masing diisi dengan larutan albumin, gelatin, kasein, dan tirosin
sebanyak 2 ml.
2) Pada setiap tabung, ditambahkan dengan 1 ml HNO3
pekat. Diperhatikan adanya endapan putih yang terbentuk.
3) Kemudian, dipanaskan selama 1 menit dan diamati
terbentuknya warna kuning.
4) Selanjutnya, didinginkan di bawah air kran, lalu
ditambahkan NaOH 10% setetes demi setetes melalui dinding tabung hingga
terbentuk lapisan.
5) Diperhatikan perubahan warna yang terjadi. Reaksi
adalah positif bila pada dinding perbatasan antara protein dan NaOH terbentuk
warna jingga.
8.
Uji Penentuan Titik Isoelektrik
1) Disiapkan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering,
lalu masing-masing diisi dengan 1 ml larutan kasein.
2) Pada setiap tabung, ditambahkan 1 ml larutan buffer
asetar masing-masing dari Ph: 3,8; 4,7; 5,0; 5,3; dan 5,9.
3) Campuran dikocok dengan baik, lalu derajat
kekeruhannya dicatat setelah 0, 10, dan 30 menit.
4) Hasilnya diperhatika. Dtentukan pada tabung berapa
terbentuk endapan maksimal.
5) Selanjutnya, semua tabung dipanaskan di atas
penangas air.
6) Hasilnya diamati. Pembentukan endapan kekeruhan
paling cepat atau paling banyak merupakan titik isoelektrik (TI) kasein.
9.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1.
HASIL
IV.1.1
TABEL
1.
Uji Susunan Elementer Protein
1)
Uji Adanya Unsur C, H, dan O
|
NO
|
Zat Uji
|
Hasil
Pengamatan (+/-)
|
||
|
Pengarangan (C)
|
Bau Rambut Terbakar (N)
|
Pengembunan (H
& O)
|
||
|
1
|
Albumin
|
+
|
+
|
+
|
|
2
|
Gelatin
|
+
|
+
|
+
|
2)
Uji Adanya Atom N
|
NO
|
Perlakuan
|
Hasil
Pengamatan (+/-)
|
|
|
Bau Amoniak (N)
|
Kertas Lakmus
Merah (N)
|
||
|
1
|
Albumin + 1 ml NaOH 10% + dipanaskan
|
+
|
Biru
|
|
2
|
Gelatin + 1 ml NaOH 10% + dipanaskan
|
+
|
Biru
|
3)
Uji Adanya Atom S
|
NO
|
Perlakuan
|
Hasil
Pengamatan (+/-)
|
|
|
PbS
|
Belerang (S)
|
||
|
1
|
Albumin + 1 ml NaOH 10% + dipanaskan +
4 tetes PbAc + 4 tetes HCl pekat
|
+
|
+
|
|
2
|
Gelatin + 1 ml NaOH 10% + dipanaskan +
4 tetes PbAc + 4 tetes HCl pekat.
|
+
|
+
|
2.
Uji Kelarutan Protein
|
Bahan
|
T1
|
T2
|
T3
|
T4
|
T5
|
|
Albumin/gelatin
|
2 mL
|
2 mL
|
2 mL
|
2 mL
|
2 mL
|
|
Air Suling
|
1 mL
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
HCl 10%
|
-
|
1 mL
|
-
|
-
|
-
|
|
NaOH 40%
|
-
|
-
|
1 mL
|
-
|
-
|
|
Alkohol 96%
|
-
|
-
|
-
|
1 mL
|
-
|
|
Kloroform
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1 mL
|
|
Hasil
|
Albumin
|
larut
|
larut
|
larut
|
larut
|
≠ larut
|
|
Gelatin
|
larut
|
larut
|
larut
|
larut
|
≠ larut
|
3.
Uji Pengendapan Protein dengan Garam
|
Bahan
|
T1
|
T2
|
T3
|
T4
|
T5
|
|
Albumin / gelatin
NaCl 5%
BaCl2 5%
CaCl2 5%
MgSO4 5%
(NH4)2SO4
jenuh
|
2 mL
Berlebih
-
-
-
-
|
2 mL
-
Berlebih
-
-
-
|
2 mL
-
-
Berlebih
-
-
|
2 mL
-
-
-
Berlebih
-
|
2 mL
-
-
-
-
Berlebih
|
|
Hasil
|
Endapan banyak / sedikit
|
+
|
+ +
+ +
|
+
+ +
|
+ +
|
+ +
+ + +
|
4.
Uji Pengendapan Protein dengan Logam dan Asam
Organik
|
Bahan
|
T1
|
T2
|
T3
|
T4
|
T5
|
|
Albumin / gelatin
TCA 10%
Asam Sulfosalisilat 5%
CuSO4 5%
HgCl2 5%
Pb-asetat 5%
|
2 mL
10 tetes
-
-
-
-
|
2 mL
-
10 tetes
-
-
-
|
2 mL
-
-
10 tetes
-
-
|
2 mL
-
-
-
10 tetes
-
|
2 mL
-
-
-
-
10 tetes
|
5.
|
Hasil
|
Endapan banyak / sedikit
|
+ + +
|
+ +
+ +
|
+ +
+ + +
|
+ +
|
+
|
5.
Uji Biuret
|
No
|
Zat Uji
|
Hasil Uji Biuret
|
Polipeptida
(+/-)
|
|
1
|
Albumin 2%
|
Violet
|
+
|
|
2
|
Gelatin 2%
|
Violet
|
+
|
|
3
|
Kasein 2%
|
Violet
|
+
|
|
4
|
Glisin 2%
|
Bening
|
-
|
6.
Uji Ninhidrin
|
No
|
Zat Uji
|
Hasil Uji Ninhidrin
|
Asam Amino
Bebas (+/-)
|
|
1
|
Albumin 2%
|
2 lapisan ungu
bening
|
+
|
|
2
|
Gelatin 2%
|
Bening
|
-
|
|
3
|
Kasein 0,5%
|
Bening
|
-
|
|
4
|
Pepton 0,5%
|
Bening
|
-
|
7.
Uji Xantoprotein
|
No
|
Zat Uji
|
Hasil Uji Xantroprotein
|
Tirosin/triptofan/
fenilalanin (+/-)
|
|
1
|
Albumin 2%
|
≠ terbentuk
lapisan
|
-
|
|
2
|
Gelatin 2%
|
Terbentuk
lapisan kuning
|
+
|
|
3
|
Kasein 0,5%
|
Terbentuk
lapisan kuning
|
+
|
8.
Uji Penentuan Titik Isoelektrik
|
No tabung
|
PH
|
Pengamatan
endapan, sedikit atau banyak
|
|
1
|
3,8
|
0 => endapan keruh
10 => banyak endapan
30 => banyak endapan dan jernih
Dipanaskan : sama dengan yang 10 menit
|
|
2
|
4,7
|
0 => ≠ endapan, keruh
10 => keruh, ≠ endapan
30 => keruh, ≠ endapan
Dipanaskan : tidak ada reaksi
|
|
3
|
5,0
|
0 => ≠ endapan
10 => endapan banyak, keruh
30 =>endapan bertambah
Dipanaskan : endapan berkurang, keruh
|
|
4
|
5,3
|
0 => keruh, ≠ endapan
10 => keruh, ≠ endapan
30 => keruh, ≠ endapan
Dipanaskan : endapan putih dan keruh
|
|
5
|
5,9
|
0 => berbusa, ≠ endapan, agak keruh
10 => berbusa, ≠ endapan
30 => berbusa, ≠ endapan
Dipanaskan : jernih
|
IV. 1. 2 Pembahasan
1. Uji Susunan Elementer Protein
Pada percobaan uji adanya unsur C, H dan O ini, digunakan zat uji berupa albumin dan gelatin yang dipanaskan kemudian diamati adanya unsur C, H, dan
O yang dimiliki oleh protein. Hasil percobaan menunjukkan bahwa albumin dan gelatin positif terhadap
adanya atom C dan atom N yang
dibuktikan dengan terjadinya pengarangan dan adanya bau rambut yang terbakar.
Terjadinya pengembunan pada albumin dan gelatin menandakan adanya atom H dan O. Albumin adalah
protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas.
Sedangkan gelatin adalah protein berupa tepung yang diperoleh dari hasil
perebusan kulit / kaki binatang, misalnya sapi yang jika didispersikan ke dalam
air akan terbentuk sol/gel.
Pada
percobaan uji
adanya atom N, menunjukkan hasil bahwa albumin dan gelatin memberikan
hasil positif terhadap bau amoniak dan kertas lakmus merah yang
mengidentifikasikan adanya atom N.
Pada percobaan uji
adanya atom S, albumin memberikan
hasil yang positif terhadap
terbentuknya PbS dan bau khas belerang yang hasilnya positif, sedangkan pada gelatin
memberikan hasil yang positif terhadap terbentuknya PbS dan pada belerang hasilnya juga positif.
2.
Uji Kelarutan Protein
Pada uji kelarutan protein ini diperoleh hasil bahwa pada albumin telur yang berturut-turut ditambahkan dengan air
suling, HCl 10%, NaOH 40%, dan alkohol 96% menunjukkan bahwa larutan tersebut
larut, sedangkan pada albumin yang ditambahkan dengan kloroform menunjukkan
hasil bahwa albumin tidak larut dalam larutan tersebut. Dan pada gelatin yang
berturut-turut ditambahkan dengan air suling, HCl 10%, NaOH 10%, dan alkohol
96% menunjukkan bahwa gelatin dapat larut dengan bahan tersebut sedangkan pada
gelatin yang ditambahkan dengan kloroform menunjukkan hasil bahwa gelatin tidak
dapat larut dalam kloroform.
Daya kelarutan protein berbeda di dalam air , asam , dan basa.
Sifat ini dipengaruhi
oleh gugus yang mengikat protein tersebut yaitu
gugus aldehid (-COOH) yang bersifat asam dan gugus amina (-NH3) yang
bersifat basa. Protein tidak dapat larut dalam pelarut lemak seperti kloroform. Protein memiliki titik
lebur yang tinggi dan merupakan elektrolit. Pada umumnya protein dapat larut dalam air karena
memiliki polaritas yang tinggi akan tetapi dalam keadaan tertentu sebagian
protein sukar larut sehingga yang terbentuk adalah koagulasinya. Protein juga
bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam maupun basa.
3.
Uji Pengendapan Protein Dengan Garam
Pada uji
pengendapan protein dengan garam diperoleh hasil bahwa albumin telur yang
berturut-turut ditambahkan dengan NaCl 5%, BaCl2 5%, CaCl2
5%, dan MgSO4 5% menunjukkan sedikit endapan. Sedangkan pada albumin
telur yang ditambahkan dengan (NH4)2SO4 jenuh
menghasilkan banyak endapan.
Pengendapan yang terjadi disebabkan oleh
garam-garam yang ditambahkan ke dalam albumin telur merupakan garam divalen dengan
konsentrasi tinggi, yang dapat mengurangi kelarutan protein dengan merusak
sistem koloid yang terdapat pada protein, sehingga terbentuklah suatu endapan.
Adapun banyak sedikitnya endapan yang terbentuk dari hasil percobaan pada
setiap tabung dipengaruhi oleh tinggi dan rendahnya konsentrasi dan jumlah
muatan ion garam yang digunakan untuk mengendapkan albumin telur tersebut.
Pengendapan garam ini dikenal dengan istilah salting out yaitu pengendapan
protein oleh garam berkonsentrasi tinggi.
4. Uji Pengendapan Protein Dengan
Logam Dan Asam Organik
Pada uji ini
diperoleh hasil bahwa albumin telur yang masing-masing ditambahkan dengan
trikloroasetat, asam sulfosalisilat, CuSO4, dan HgCl2
menghasilkan banyak endapan. Sedangkan pada albumin telur yang ditambahkan
dengan Pb-asetat menghasilkan sedikit endapan. Terbentuknya endapan disebabkan
oleh penambahan asam-asam organik seperti asam trikloroasetat dan asam
sulfosalisilat yang akan menghasilkan garam proteinat yang tidak larut. Begitu
pula dengan penambahan logam-logam berat seperti CuSO4, HgCl2,
dan Pb-asetat akan menyebabkan denaturasi protein dengan mengendapnya kandungan
dari logam-logam berat tersebut.
Banyak sedikitnya endapan dipengaruhi oleh tinggi
rendahnya pH larutan asam organik dan logam dari pH isoelektrik protein/albumin
telur. Di mana, pH isoelektrik albumin telur adalah 4,55-4,90. Oleh karena itu
untuk mengendapkan protein dengan ion logam, diperlukan pH larutan di atas pH
isoelektrik di mana protein bermuatan negatif sedangkan ion positif yang dapat
mengendapkan protein tersebut adalah Cu2+, Hg2+, dan Pb2+.
Untuk mengendapkan protein dengan asam organik, diperlukan pH larutan di bawah
pH isoelektrik protein di mana, protein bermuatan positif sedangkan ion negatif
yang dapat mengendapkannya yaitu ion salisilat, trikloroasetat, dan
sulfosalisilat.
5.
Uji Biuret
Pada uji biuret ini diperoleh
hasil bahwa albumin, gelatin dan
kasein ketika ditambahkan NaOH dan CuSO4 terdapat kompleks
warna ungu bening yang menunjukkan
bahwa albumin, gelatin dan
kasein mengandung
polipeptida sedangkan pada glisin yang
ditambahkan NaOH dan CuSO4 menghasilkan warna bening
(tidak terdapat kompleks warna ungu) yang menunjukkan bahwa glisin tidak mengandung
polipeptida. Reaksi biuret positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih
(polipeptida), tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida.
6.
Uji Ninhidrin
Pada percobaan ini didapatkan hasil albumin
berwarna biru keunguan, gelatin berwarna kuning bening, dan pepton berwarna
ungu bening. Ini menunjukkan bahwa semuanya memiliki asam amino bebas. Hal ini
terjadi karena semua asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin
(triketohidrinden hidrat) membentuk aldehida dengan satu atom C lebih rendah
dan melepaskan NH3 dan CO2 yang menyebabkan terbentuknya
senyawa kompleks berwarna biru, namun prolin dan hidroksiprolin menghasilkan
senyawa berwarna kuning yang diduga disebabkan oleh 2 molekul ninhidrin yang
bereaksi dengan NH3 setelah asam amino teroksidasi.
Pada
tabung 1 diisi dengan albumin 2% dan direaksikan dengan pereaksi ninhidrin dan
menghasilkan warna biru keunguan pada larutan tersebut. Hal ini membuktikan
bahwa adanya asam amino bebas yang terdapat pada albumin. Asam amino-α bebas yang terkandung dalam albumin yang bereaksi dengan ninhidrin membentuk
aldehida dengan satu atom C lebih rendah dan melepaskan NH3 dan CO2. Pada tabung 2 diisi dengan gelatin 2%
kemudian direaksikan dengan pereaksi ninhidrin dan tidak menghasilkan warna
kuning bening. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada, seharusnya pada
gelatin terbentuk larutan berwarna kuning sebab terbentuknya larutan
berwarna kuning oleh 2 molekul ninhidrin bereaksi dengan NH3 setelah
asam amino tersebut dioksidasi. Pada
tabung 3 diisi dengan pepton 0,5% dan direaksikan dengan pereaksi ninhidrin,
menghasilkan warna ungu bening pada larutan, ini membuktikan bahwa terdapat
asam amino bebas pada pepton.
7.
Uji Xantoprotein
Pada percobaan ini didapatkan hasil albumin yang ditambahkan HNO3 tidak menghasilkan
endapan putih keruh dan ketika dipanaskan tidak berubah menjadi endapan kuning.
Dan ketika ditambahkan NaOH tidak terbentuk lapisan berwarna jingga. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teori dasar dari
uji tersebut. Seharusnya, albumin menghasilkan endapan putih dan terbentuk lapisan
karena albumin mengandung cincin benzena yakni tirosin, triptofan, dan
fenilalanin.
Pada percobaan gelatin dan kasein yang
dilakukan dengan penambahan HNO3 mengalami perubahan dengan
terbentuknya lapisan. Hal ini terjadi dikarenakan adanya bahan dan alat yang
terkontaminasi. Seharusnya pada tabung gelatin dan kasein dengan penambahan HNO3
dan ketika dipanaskan tidak mengalami perubahan disebabkan oleh salah satu
unsur yang terkandung dalam albumin berbeda dengan unsur yang terkandung di
dalam gelatin sehingga memungkinkan reaksi yang berbeda pada saat ditambahkan
asam nitrat pekat. Akan tetapi setelah ditambahkan NaOH 10% secara hati-hati
melalui dinding tabung, keduanya membentuk lapisan cincin berwarna jingga.
Terbentuknya cincin berwarna jingga disebabkan senyawa nitro yang terbentuk
dalam suasana basa (dalam hal ini penambahan NaOH), mengalami ionisasi pada
reaksinya sehingga warna larutan pun berubah menjadi jingga.
8.
Uji
Penentuan Titik Isoelektrik
Pada praktikum di atas, semaikn kecil pH
buffer asetatnya, semakin banyak endapannya.
Karena pH yang kecil dan benyak membantuk endapan berarti selisih muatan listriknya antara yang positif dan negatif sama.
Sehingga, tidak dapat bergerak dan membantuk endapan atau
warna keruh. Jadi, pada pH 3,8 dan 4,7 sebagai dua pH
terkecil dapat membentuk endapan, karena terbentuk muatan
negatif dan positif yang sama. Semakin kecil pH Buffer asetat pada uji
Isoelektrik, semakin banyak endapan yang terbentuk.
Pada percobaan ini, didapatkan hasil
pada larutan buffer yang memiliki pH 3,8 pada menit ke 0 ternyata terbentuk
endapan. Kemudian pada menit ke-10 didapatkan banyaknya terbentuk endapan dan
pada menit ke-30 didapatkan banyak endapan dan berubah menjadi jernih. Setelah
dipanaskan,, hasil yang didapatkan sama dengan pada menit ke-30. Pada tabung
kedua, larutan dengan pH 4,7 dan 5,3 memiliki hasil yang sama pada menit ke-0
sampai dengan menit ke-30 yaitu tidak terbentuk endapan. Kemudian pada larutan
yang memiliki pH 5,9 didapatkan hasil yang sama pada menit selanjutnya yaitu
bening. Hal ini dikarenakan adanya bahan atau alat yang terkontaminasi.
Dalam suatu sistem elektroforesis yang
mempunyai elektroda positif dan negatif, asam amino akan bergerak menuju
elektroda yang berlawanan dengan muatan ion asam amino yang terdapat dalam
larutan. Oleh karena muatan ion itu tergantung pada pH larutan, maka pH larutan
dapat diatur sedemikian rupa sehingga ion asam amino tidak bergerak ke arah
elektrroda positif maupun negative dalam system elektroforesis. Pada titik
isolistrik terdapat keseimbangan antara bentuk-bentuk asam amino sebagai ion
amfoter, anion, dan kation. Tetapi sebagian besar molekul asam amino terdapat
dalam bentuk ion amfoter dan hanya sedikit sekali yang terdapat dalam bentuk
kation dan anion dalam jumlah yang sama.
BAB
V
PENUTUP
V.
1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat
ditarik dari percobaan protein adalah:
1.
Uji Susunan Elementer Protein
Pada uji susunan elementer protein,
diketahui bahwa protein tersusun
atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), dan nitrogen (N). Ada
pula protein yang mengandung sedikit belerang (S) dan fosfor (P).
2. Uji
Kelarutan Protein
Pada
uji kelarutan protein, diketahui bahwa daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa. Ada yang mudah larut dan ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut
dalam pelarut lemak.
3. Uji
Pengendapan Protein dengan Garam
Pada
uji pengendapan protein dengan garam, diketahui bahwa pengaruh penambahan garam terhadap kelarutan protein
tergantung pada konsentrasi dan jumlah muatan ionnya. Semakin tinggi
konsentrasinya dan jumlah muatan ionnya maka semakin efektif garam dalam
mengendapkan protein.
4. Uji
Pengendapan Protein dengan Logam dan Asam Organik
Pada
uji pengendapan protein dengan logam dan asam organic, diketahui bahwa penambahan logam-logam berat dan asam organik pada protein akan menyebabkan
terjadinya pengendapan pada protein.
5.
Uji Biuret
Pada uji biuret, diketahui bahwa albumin dan gelatin mengandung polipeptida yang ditandai dengan terbentuknya kompleks warna ungu.
Sedangkan glisin tidak mengandung polipeptida yang ditandai dengan larutan yang
berwarna bening.
6. Uji
Ninhidrin
Pada
uji
ninhidrin, diketahui bahwa adanya
asam amino bebas dapat dibuktikan dengan reaksi positif yang terdapat pada
albumin yang menghasilkan larutan berwarna ungu.
7. Uji
Xantoprotein
Pada uji
xantroprotein, diketahui bahwa adanya
asam amino tirosin, triptofan, dan fenilalanin pada albumin dan gelatin dapat
dibuktikan dengan reaksi positif pada albumin yang membentuk endapan putih berubah menjadi
kuning setelah
dipanaskan serta terbentuknya
lapisan berwarna jingga, pada albumin dan gelatin.
8. Uji
Penentuan Titik Isoelektrik
Titik Isoelektrik pada
larutan buffer berada pada pH 3,8 yang berada dalam keadaan netral. Semakin kecil pH
Buffer asetat pada uji Isoelektrik, semakin banyak endapan yang terbentuk.
V.2
Saran
1.
Untuk Asisten:
Diharapkan agar dapat lebih mengawasi
praktikan pada saat percobaan untuk meminimalkan kesalahan yang terjadi.
1.
Untuk
Laboratorium:
Laboratorium sebaiknya lebih dilengkapi
lagi sarana dan prasarananya agar dapat mendukung kelancaran pada saat
praktikum.
Casinos Near Harrah's Casino and Racetrack in Murphy, NC
BalasHapusFind your nearest Casinos with Mapyro. Explore reviews, photos & 전주 출장마사지 directions to open 의정부 출장샵 a 거제 출장마사지 casino near you 진주 출장마사지 from 3400 Pennsylvania 광주광역 출장샵 Avenue, Murphy, NC 28719.