LAPORAN BIOKIMIA - LIPID
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA
PERCOBAAN II
LIPID
NAMA : EKA ISMA LILIANY
N
I M : K211 10 006
KELOMPOK : IV
(EMPAT)
TGL.
PRAKTIKUM : 09 APRIL 2011
ASISTEN : HARNA
LABORATORIUM
TERPADU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS
KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Lemak
adalah sekelompok ikatan organic yang terdiri atas unsure-unsur Karbon (C),
Hidrogen (H), dan oksigen (O), yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat
pelarut tertentu (zat pelarut lemak), seperti petroleum benzene, ether. Lemak
yang mempunyai titik lebur tinggi bersifat padat pada suhu kamar, sedangkan
yang mempunyai titik lebur rendah, bersifat cair. Lemak yang padat pada suhu
kamar disebut lemak atau gajih, sedankan yang cair pada suhu kamar disebut
minyak (Sediaoetama, 1985).
Senyawa
organik berminyak atau berlemak yang tidak larut di dalam air, yang dapat
diekstrak dari sel dan jaringan hewan maupun tumbuhan oleh pelarut non polar,
seperti kloroform atau eter. Hasil ekstraksi merupakan campuran yang kompleks,
mengandung diantaranya triasilgliserol, fosfolipid, glikolipid, bermacam-macam
sterol dan senyawa-senyawa lain yang terbentuk sebagai hasil hidrolisis zat-zat
tersebut di atas. Triasilgliserol, kolesterol dan eter kolesterol dinamakan
juga lipid netral karena tidak bermuatan (Iswari & Yuniastuti, 2006)
1.2
TUJUAN PERCOBAAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
Adapun
tujuan umum dari percobaan kali ini yaitu:
1. Mengetahui beberapa sifat fisikokimia dari lipid
2. Mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada
identifikasi sifat minyak.
3. Mengetahui pembentukan emulsi dari lipid.
4. Mengidentifikasi adanya sterol pada suatu bahan
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1.
Uji Kelarutan Lipid
Mengetahui kelarutan lipid pada pelarut tertentu.
2.
Uji Pembentukan Emulsi
Mengetahui terjadinya pembentukan emulsi dan minyak.
3.
Uji Keasaman Minyak
Mengetahui sifat asam basa minyak kelapa.
4.
Uji Penyabunan Minyak
Mengetahui terjadinya hidrolisis pada minyak oleh
alkali
5.
Uji Kolesterol
Mengetahui adanya sterol (kolesterol) dalam suatu
bahan secara kualitatif.
6.
Uji Kristal Kolesterol
Mengetahui bentuk Kristal dari kolesterol.
1.3
PRINSIP PERCOBAAN
1.
Uji Kelarutan Lipid
Pada
umumnya, lemak dan minyak tidak larut dalam air, tetapi sedikit larut dalam
alcohol dan larut sempurna dalam pelarut organic seperti eter, kloroform,
aseton, benzene, atau pelarut non-polar lainnya.
Minyak
dalam air akan membentuk emulsi yang tidak stabil karena bila dibiarkan, maka
kedua cairan akan memisah menjadi dua lapisan. Sebaliknya, minyak dalam soda
(Na2CO3) akan membentuk emulsi yang stabil karena asam
lemak yang bebas dalam larutan lemak bereaksi dengan soda membentuk sabun.
Sabun mempunyai daya aktif permukaan, sehingga tetes-tetes minyak tersebar
seluruhnya.
2.
Uji Pembentukan Emulsi
Emulsi
adalah disperse atau suspense metastabil suatu cairan dalam cairan lain di mana
keduanya tidak saling melarutkan. Agar terbentuk emulsi yang stabil, diperlukan
suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier
atau emulsifying agent, yang berfungsi
menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase cairan. Bahan emulsifier dapat
berupa protein, gom, sabun, atau garam empedu.
Daya
kerja emulsifier terutama disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat,
baik pada minyak maupun air. Emulsifier akan membentuk lapisan di sekeliling
minyak sebagai akibat menurunnya tegangan permukaan dan diadsorpsi melapisi
butir-butir minyak satu sama lain.
3.
Uji Keasaman Minyak
Minyak
murni umumnya bersifat netral, sedangkan minyak yang sudah tengik bersifat
asam. Hal ini disebabkan minyak mengalami hidrolisis dan oksidasi menghasilkan,
aldehida, keton dan asam-asam lemak bebas.
Proses
ketengikan pada lemak atau minyak dapat dipercepat oleh adanya cahaya,
kelembaban, pemanasan, aksi mikroba, dan katalis logam tertentu, seperti Fe,
Ni, atau Mn. Sebaliknya, zat-zat yang dapat menghambat terjadinya proses
ketengikan disebut antioksidan, misalnya: tokoferol (vitamin E), asam askorbat
(vitamin C), polifenol, hidroquinon, dan flavoid.
4.
Uji Penyabunan Minyak
Lemak
dan minyak dapat terhidrolisis, lalu menghasilkan asam lemak dan gliserol.
Proses hidrolisis yang disengaja biasa dilakukan dengan penambahan basa kuat,
seperti NaOH atau KOH, melalui pemanasan dan menghasilkan gliserol dan sabun.
Proses hidrolisis minyak oleh alkali disebut reaksi penyabunan atau saponifikasi.
5.
Uji Kolesterol
Kelompok lipid seperti fosfolipid dan sterol merupakan komponen penting
yang terdapat dalam semua sel hidup. Kolesterol adalah sterol utama yang banyak
terdapat di alam. Untuk mengetahui adanya sterol dan olesterol, dapat dilakukan
uji kolesterol menggunakan reaksi warna. Salah satu diantaranya ialah reaksi Liebermaan Burchard. Uji ini positif
bila reaksi menunjukkan warna yang berubah dari merah, kemudian biru dan hijau.
Warna hijau yang terjadi sebanding dengan konsentrasi kolesterol dalam bahan.
6.
Uji Kristal Kolesterol
Kolesterol terdapat pada hampir semua sel hewan dan manusia. Pada tubuh
manusia, kolesterol tedapat dalam darah, empedu, kelenjar adrenalin bagian luar
(adrenal cortex), dan jaringan saraf.
Jika kadar kolesterol dalam darah terlalu tinggi, maka akan mengendap membentuk
Kristal. Endapan kolesterol dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (arteriosclerosis) karena dindingnya
menjadi tebal. Akibatnya, elastisitas pembuluh darah menjadi berkurang,
sehingga aliran darah terganggu.
Kolesterol dalam serum tidak terdapat bebas, melainkan berkonjugasi
sebagai lipoproteida, yaitu pembentuk protein yang terdiri atas 25% kolesterol
dan 75% ester asam lemak tidak jenuh.
1.4
MANFAAT PERCOBAAN
1.
Mengetahui kelarutan
lipid pada pelarut tertentu.
2.
Mengetahui
terjadinya pembentukan emulsi dan minyak.
3.
Mengetahui sifat
asam basa minyak kelapa.
4.
Mengetahui
terjadinya hidrolisis pada minyak oleh alkali.
5.
Mengetahui
adanya sterol (kolesterol) dalam suatu bahan secara kualitatif.
6.
Mengetahui
bentuk Kristal dari kolesterol.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Lipid adalah sekelompok senyawa
heterogen, meliputi lemak, minyak, steroid, malam (wax), dan senyawa terkait, yang berkaitan lebih karena sifat
fisiknya daripada sifat kimianya. Lipid memiliki sifat umum berupa (1) relatif
tidak larut dalam air dan (2) larut dalam pelarut nonpolar misalnya eter dan
kloroform (Murray, 2009).
Lipid
merupakan komponen penting dalam membran sel, termasuk diantaranya fosfolipid,
glikolipid, dan dalam sel hewan adalah kolesterol. Fosfolipid memiliki banyak
kerangka gliserol (fosfogliserida)
atau sfingosina (sfingomylin).
Serebrosida mengandung glukosa dan galaktosa dan dengan kerangka sfingosina
termasuk dalam glikolipid. Kolesterol merupakan senyawa induk bagi steroid lain
yang disintesis dalam tubuh. Steroid tersebut adalah hormon-hormon yang penting
seperti hormon korteks adrenal serta hormon seks, vitamin D, dan asam empedu
(Sirajuddin dan Najamuddin, 2011).
Lipid
diklasifikasikan menjadi lipid sederhana dan lipid kompleks (Murray, 2009):
a)
Lipid sederhana: ester
asam lemak dengan berbagai alcohol.
1) Lemak (fat): ester
asam lemak dengan gliserol.
Minyak (oil) adalah
lemak dalam keadaan cair.
2) Wax (malam): ester asam lemak dengan alkohol monohidrat berberat
molekul tinggi.
b)
Lipid kompleks: ester asam
lemak yang mengandung gugus-gugus selain alkohol dan asam lemak.
1) Fosfolipid: Lipid yang mengandung suatu residu asam fosfor,
selain asam lemak dan alkohol. Lipid ini sering memiliki basa yang mengandung
nitrogen dan substituent lain, misalnya alkohol pada gliserofosfolipid adalah gliserol dan alkohol pada sfingofosfolipid adalah sfingosin.
2) Glikolipid (glikosfingolipid): lipid yang mengadung asam lemak,
sfingosin, dan karbohidrat.
3) Lipid kompleks lain: lipid seperti sulfolipid dan aminolipid.
Lipoprotein juga dapat dimasukkan ke dalam kelompok ini.
c)
Prekursor dan lipid
turunan: kelompok ini mencakup asam lemak , gliserol, steroid, alkohol lain,
aldehida lemak dan badan keton, hidrokarbon, vitamin larut lemak, dan hormon.
Berikut penjelasan lebih lengkap
mengenai lipid kompleks yaitu Trigliserida, fosfolipida, dan steroid (Pack,
2007).
1)
Trigliserida
Trigliserida meliputi lemak, minyak, dan
lilin. Trigliserida terdiri atas tiga asam lemak yang terhubung ke molekul
gliserol. Asam lemak adalah hidrokarbon (rantai karbon dan hidrogen yang
terikat secara kovalen) dengan sebuah gugus karboksil (-COOH) di sebuah ujung rantai.
Asam lemak jenuh mempunyai satu ikatan kovalen diantara setiap pasangan atom
karbon dan setiap karbon mempunyai dua atom hidrogen yang terikat dengan atom
karbon tersebut. Kita dapat mengingat fakta ini dengan berpikir bahwa setiap
karbon “dijenuhkan” dengan hidrogen. Asam lemak tak jenuh terjadi ketika dua
ikatan kovalen menggantikan ikatan kovalen tunggal dan dua atom hidrogen. Asam
lemak tak jenuh majemuk mempunyai ikatan-ikatan ganda semacam ini dalam jumlah
besar.
2)
Fosfolipida
Fosfolipida terlihat sama seperti lipida
kecuali salah satu dari rantai asam.lemak digantikan oleh gugus fosfat (-PO32-).
Gugus-gugus kimia tambahan biasanya menempel pada gugus fosfat. Karena “ekor”
asam lemak fosfolipida bersifat nonpolar dan hidrofobik dan “kepala” gliserol
serta fosfat bersifat polar dan hidrofolik, fosfolipida sering ditemukan dalam
bentuk seperti sandwich (berlapis-lapis)
dengan kepala yang hidrofolik mengarah ke luar. Bentukan fosfolipida seperti
ini menyediakan struktur dasar membran sel.
3)
Steroid
Steroid dicirikan oleh empat cincin
karbon saling bertautan yang menjadi kerangka utama. Contoh-contoh steroid
meliputi kolesterol (komponen membran sel) dan hormon tertentu termasuk
testeron dan estrogen.
Lipid adalah sekelompok senyawa organic
yang terdapat di alam dan mempunyai sifat-sifat (Iswari & Yuniastuti, 2006)
:
1)
Tidak larut di dalam air,
tetapi larut di dalam pelarut-pelarut non polar seperti eter, klofororm,
alkohol panas dan benzene.
2)
Berhubungan dengan asam
lemak baik secara actual/potensial.
3)
Dapat digunakan oleh
organism hidup.
Selain menurut penggolongan di atas,
berdasarkan sifat kimianya lipid dapat pula dibedakan menjadi dua, yaitu: lipid
yang dapat disabunkan atau dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya : lemak
atau minyak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya : sterol dan terpena (Sirajuddin & Najamuddin, 2011).
Menurut sumbernya kita dapat membedakan
lemak nabati dan llemak hewani . lemak nabati berasal dari bahan makanan
tumbuh-tumbuhan, sedangkan lemak hewani berasal dari binatang termasuk ikan,
telur, dan susu. Kedua jenis lemak ini berbeda dalam jenis asam lemak yang
menyusunnya. Lemak nabati mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh, yang
menyebabkan titik cair yang lebih rendah, dan dalam suhu kamar berbentuk cair,
disebut minyak. Lemak hewani mengandung terutama asam lemak jenuh, khususnya
mempunyai rantai karbon panjang, yang mengakibatkan dalam suhu kamar berbentuk
padat. Lemak berbentuk padat inilah yang biasa oleh awam disebut lemak atau
gajih (Sediaoetama, 1985).
Lemak dan minyak merupakan bagian
terbesar dan terpenting kelompok lipid, yaitu sebagai komponen makanan utama
bagi organisme hidup. Lemak dan minyak penting bagi manusia karena adanya
asam-asam lemak esensial yang terkandung di dalamnya. Fungsinya dapat
melarutkan vitamin A, D, E, dan K yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
tubuh. Kemudian, lemak dan minyak merupakan sumber energi yang lebih efisiien
dibandingkan dengan protein. Satu gram lemak atau minyak dapat menghasilkan 9
kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal setiap gram (Sirajuddin
& Najamuddin, 2011).
Senyawa lipid juga merupakan konstituen
makanan yang penting tidak saja karena nilai energinya yang tinggi, tetapi juga
karena vitamin larut lemak dan asam lemak esensial yang terkandung di dalam
lemak makanan alami. Lemak disimpan di jaringan adipose, tempat senyawa ini
juga berfungsi sebagai insulator panas di jaringan subkutan dan disekitar organ
tertentu. Lipid nonpolar berfungsi sebagai insulator listrik, dan memungkinkan
penjalaran gelombang depolarisasi di sepanjang saraf bermielin. Kombinasi lipid
dan protein (lipoprotein) adalah konstituen sel yang penting, yang terdapat
baik di membran sel maupun di mitokondria, dan juga berfungsi sebagai alat
pengangkut lipid dalam darah (Murray, 2009).
Asam lemak dapat dibentuk dari
senyawa-senyawa yang mengandung karbon seperti asam asetat, asetaldehid, dan
etanol yang merupakan hasil respirasi tanaman. Asam lemak dalam tanaman
disintesis dalam keadaan anaerob dengan bantuan bakteri tertentu seperti clostridium kluyveri. Asam-asam lemak
yang ditemukan di alam umumnya merupakan asam-asam monokarboksilat dengan
rantai yang tidak bercabang dan mempunyai jumlah atom karbon genap (Sirajuddin
& Najamuddin, 2011).
Asam lemak alamiah selalu mengandung
jumlah atom karbon genap, dengan rumus umum CnH2nO2,
dengan n=4,6,8 dan seterusnya sampai 18. Seretan asam-asam lemak ini termasuk
deretan asam-amsam lemak jenuh. Anggota deretan ini yang mempunyai jumlah
karbon terkecil (n=4) ialah asam butyrate , yang terdapat di dalam mentega susu
dengan kadar 6%. Anggota deretan asam lemak jenuh yang mempunyai jumlah karbon
terbanyak ialah asam stearat (n=18) (Sediaoetama, 1985).
Asam lemak terutama terdapat sebagai
eter dalam minyak dan lemak alami, tetapi terdapat dalam bentuk tak-teresterifikasi
sebagai asam lemak bebas, yakni suatu bentuk transport yang terdapat dalam
plasma. Asam lemak yang terdapat dalam lemak alami biasanya adalah turunan
rantai lurus yang mengandung asam karbon berjumlah genap. Rantai tersebut dapat
jenuh (tidak mengandung ikatan rangkap) atau tidak jenuh (mengandung satu atau
lebih ikatan rangkap) (Murray, 2009).
Penjelasan asam lemak jenuh dan asam
lemak tidak jenuh, yaitu (Iswari & Yuniastuti, 2006) :
1)
Asam lemak jenuh. Dengan
rantai karbon jenuh. Umumnya asam-asam lemak yang terdapat di dalam alam
mengandung jumlah atom C genap (asam butirat, asam kaproat, asam laurat, asam
stearat, asam arakidonat, dan lignoserat).
2)
Asam lemak tidak jenuh. Dengan
rantai karbon yang mengandung ikatan rangkap. Contoh: asam oleat, asam
linoleat, asam linolenat, asam arakidonat.
Adapun cirri-ciri pada asam lemak yaitu
antara lain (1) komponen unit pembangun yang khas pada kebabnyakan lipida, (2)
senyawa yang terdiri dari rantai panjang hidrokarbon dan gugus karboksilat yang
terikat pada ujungnya, (3) tidaak larut dalam air dan tampak berminyak atau
berlemak (mempunyai gugus karboksil tunggal dan ekor hidrokarbon non-polar yang
panjang), (4) tidak terpadat secara bebas/terbentuk tunggal di dalam
sel/jaringan tetapi terikat secara kovalen pada beberapa kelas lipida. Ikatan tersebut
dapat dibebaskan oleh hidrolisis baik secara kimia (asam dan basa) maupun
enzimatik, (5) hampir semua yang terdapat di alam mempunyai jumlah atom karbon
yang genap, paling dominan adalah asam lemak dengan atom C 16 dan 18, dan (6)
ekor hidrokarbon yang panjang mungkin hanya mengandung ikatan tunggal (jenuh),
mungkin emngandung satu atau lebih ikatan ganda (tidak jenuh); C no. 9(d9).
Apabila ada dua atau lebih ikatan ganda, tidak pernah terkonjugasi tetapi
terpisah oleh gugus metilen (Iswari & Yunisatuti, 2006).
Titik leleh asam lemak karbon berjumlah
genap meningkat seiring dengan panjang rantai dan menurun sesuai
ketidakjenuhannya. Suatu triasilgliserol yang mengandung tiga asam lemakk jenuh
dengan 12 karbon atau lebih bersifat padat pada suhu tubuh, sedangkan jika
residu asam lemaknyya 18:2, lemak ini berbentuk cair hingga di bawah 0oC.
Dalam praktik, asilgliserol alami mengandung campuran asam-asam lemak yang
disesuaikan untuk memenuhi peran fungsionalnya. Lipid membran yang seharusnya
cair pada semua suhu lingkungan, lebih tidak jenuh dibandingkan dengan lipid
simpanan. Lipid di jaringan yang sering terkena udara dingin, misalnya pada
hibernator atau di ekstremitas hewan, lebih tidak jenuh (Murray, 2009).
Pengetahuan tentang biokimia lipid
diperlukan untuk memahami banyak bidang biomedis penting, misalnya obessitas,
diabetes mellitus, aterosklerosis, dan peran berbagai asam lemak tak jenuh
ganda dalam gizi dan kesehatan (Murray, 2009).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1.
ALAT DAN BAHAN
1.
Uji Kelarutan Lipid
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu tabung reaksi, penjepit
tabung, pipet ukur, dan pipet tetes.
Bahan
yang digunakan yaitu minyak kelapa, alcohol 96%, kloroform, eter, air suling (aquades), dan larutan Na2CO3
0,5%.
2.
Uji Pembentukan Emulsi
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu tabung reaksi dan pipet ukur
atau tetes.
Bahan
yang digunakan yaitu minyak kelapa, larutan Na2CO3 0,5%,
larutan sabun, larutan protein 2%, dan larutan empedu encer.
3.
Uji Keasaman Minyak
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu kertas lakmus merah atau
biru, porselen tetes, dan pipet tetes.
Bahan
yang digunakan yaitu minyak kelapa dan minyak kelapa tengik.
4.
Uji Penyabunan Minyak
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu tabung reaaksi, gelas kimia,
alat pemanas, dan neraca analitis.
Bahan
yang digunakan yaitu minyak kelapa, alcohol 95%, NaOH, larutan deterjen, asam
asetat encer (5 M), larutan CaCCl2 5%,larutan MgSO4 5%,
dan larutan Pb-asetat 5% .
5.
Uji Kolesterol
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu tabung reaksi, pipet ukur,
dan pipet tetes.
Bahan
yang digunakan yaitu minyak kelapa, minyak ikan, asam asetat anhidrid,
kloroform, dan H2SO4 pekat.
6.
Uji Kristal Kolesterol
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu mikroskop, gelas objek,
gelas preparat, dan mikropipet.
Bahan
yang digunakan yaitu ekstrak kuning telur (pengganti kolesterol) dan alcohol.
III.2.
PROSEDUR PERCOBAAN
1.
Uji Kelarutan Lipid
1) Sebanyak 5 buah tabung reaksi yang bersih dan kering
disiapkan. Berturut-turut tabung rekasi diisi dengan air suling, alcohol 96%,
eter, kloroform, dan larutan Na2CO3 0,5% sebanyak 1 ml.
2) Setiap tabung ditambahkan 2 tetes minyak kelapa.
3) Larutan dikocok sampai homogen, lalu dibiarkan
beberapa saat.
4) Diamati sifat kelarutannya.
2.
Uji Pembentukan Emulsi
1) Sebanyak 5 buah tabung reaksi yang bersih dan kering
disiapkan.
Tabung 1 : diisi 2 ml air dan 2 tetes minyak kelapa
Tabung 2 : diisi 2 ml air, 2 tetes minyak kelapa,
dan 2 tetes Na2CO3 0,5%
Tabung 3 : diisi 2 ml air, 2 tetes minyak kelapa,
dan 2 tetes larutan sabun
Tabung 4 : diisi 2 ml larutan protein 2% dan 2 tetes
minyak kelapa.
Tabung 5 : diisi dengan 2 ml larutan empedu encer
dan 2 tetes minyak kelapa
2) Setiap tabung dikocok dengan kuat, lalu dibiarkan
beberapa saat.
3) Terjadinya pembentukan emulsi diamati.
3.
Uji Keasaman Minyak
1) Minyak kelapa diteteskan pada porselen tetes
2) Diuji dengan kertas lakmus
3) Perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus pun
diamati
4) Percobaan diatas diulangi dengan menggunakan minyak
kelapa tengik.
4.
Uji Penyabunan Minyak
1.
Hidrolisis minyak kelapa (Saponifikasi)
1) Sebanyak 5 ml minyak kelapa dimasukkan ke dalam
tabung reaksi.
2) Ditambahkan 1,5 gr NaOH dan 25 ml alcohol 95%.
3) Dipanaskan sampai mendidih selama 15 menit.
4) Untuk mengetahui apakah reaksi penyabunan telah
sempurna, diambil 3 tetes larutan, kemudian dilarutkan dalam air. Bila larut,
maka menunjukkan reaksi telah sempurna.
5) Setelah sempurna, alcohol yang tersisa diuapkan
sampai habis.
6) Didinginkan, lalu ditambahkan 80 ml air dan panaskan
sampai semua sabun larut.
2.
Uji sifat-sifat sabun (Kesadahan)
1) Sebanyak 6 ml larutan sabun diambil dengan pipet
ukur, lalu dinetralkan dengan asam asetat encer.
2) Larutan sabun yang telah netral dibagi menjadi 3
bagian, masing-masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
3) Kedalam tabung 1, 2, dan 3 berturut-turut
ditambahkan CaCl2 5%, MgSO4 5%, dan Pb-asetat 5% sebanyak
5 ml. dikocok dengan kuat.
4) Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
5) Percobaan di atas diulangi dengan menggunakan
deterjen lalu hasilnya dibandingkan.
5.
Uji Kolesterol
1) Sebanyak 2 buah tabung reaksi yang bersih dan kering
disiapkan. Tabung pertama diisi dengan 1 ml minyak kepala dan tabung kedua dengan 5 tetes ikan.
2) Pada setiap tabung, ditambahkan kloroform sebanyak 2
ml.
3) Ditambahkan pula 10 tetes asam asetat anhidrid.
4) Melalui dinding tabung, ditambahkan 2-3 tetes asam
sulfat pekat.
5) Dikocok dengan hati-hati lalu didiamkan beberapa
detik.
6) Diamati perubahan yang terjadi.
6.
Uji Kristal Kolesterol
1) Sedikit kolesterol dilarutkan sedikit dalam alcohol
panas pada gelas objek.
2) Diambil setetes larutan alcohol dan diteteskan pada
gelas preparat.
3) Dibiarkan sampai semua alcohol menguap.
4) Kristal kolesterol diamati di bawah mikroskop.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar